Kabar itu datang merayap di akhir bulan April 2025. Duka menyelimuti grup chat kloter SOC 47. Mbah Warijan, sosok jamaah tertua kami dari Warungboto, Yogyakarta, telah berpulang menghadap Sang Khalik. Tepat di hari Rabu, 30 April 2025, dalam damai usia 85 tahun.
Mengingat beliau, ingatan saya melayang setahun silam, tahun 2024, saat kami bersama menginjakkan kaki di Tanah Suci. Sungguh, itu adalah skenario Allah yang indah sekaligus mengharukan. Sebab, sejatinya, Mbah Warijan dijadwalkan berangkat haji di tahun 2025 ini, tepatnya di bulan Mei. Namun, entah bagaimana pengaturan-Nya, beliau mendapat panggilan lebih cepat di tahun sebelumnya. Seolah takdir memberinya kesempatan untuk menyempurnakan satu rukun Islamnya, sebelum waktu yang telah digariskan tiba.
Di usianya yang ke-84 saat itu, Mbah Warijan adalah bukti nyata kemurahan Allah. Beliau lolos semua tes kesehatan dengan status istito'ah murni, tanpa rekayasa sedikit pun. Saya ingat betul bagaimana saya harus berjuang mati-matian, mengulang tes kesehatan hingga tiga kali, mengerahkan segala ikhtiar agar memenuhi syarat pemerintah. Mbah Warijan? Beliau menjalaninya dengan mulus, seolah tak ada beban. Kemurnian niatnya sejalan dengan kemurnian kondisi fisiknya.
Berangkat seorang diri, tanpa pendamping, mungkin terdengar berat. Namun, Allah Maha Pengatur. Mbah Warijan tak pernah benar-benar sendirian. Beliau membersamai regu dan rombongan yang luar biasa kompak. Para anggota regu dan rombongan dengan sigap bergantian membimbing, membantu, memastikan setiap langkah beliau aman dan lancar. Dalam dekapan persaudaraan haji itulah, segala aktivitas ibadah beliau berjalan mulus, insya Allah penuh keberkahan.
Saya tak pernah lupa saat iseng bertanya, "Mbah, panjenengan (Anda) mau beli oleh-oleh apa nanti buat yang di rumah?" Wajah teduh itu tersenyum polos. "Ah, ndak macem-macem. Kulo cuma pingin beli baju Mekah... jubah," jawabnya ringan. Sebuah cita-cita yang begitu sederhana, tidak "neko-neko". Fokusnya hanya satu: sampai Mekah dan bisa haji dengan sempurna. Melihat kesahajaan harapannya, saya yakin bekal uang yang dibawa beliau pasti sisa banyak, tak tergerus untuk belanja aneka rupa yang kadang melenakan.
Semua rangkaian ibadah haji, yang bagi sebagian orang muda pun terasa begitu menguras fisik dan mental, dijalani Mbah Warijan tanpa sekalipun saya dengar keluh kesah atau protes dari bibirnya. Bahkan di Mina, saat antrean kamar mandi begitu panjang dan lorong-lorong tenda yang mirip membuat bingung, beliau tetap sabar. Meskipun untuk menuju kamar mandi harus diantar, berisiko tersesat, tak ada raut frustrasi. Yang muda saja terkadang masih bisa lupa jalan kembali ke tendanya, tapi Mbah Warijan, dalam bimbingan anggota rombongan, tetap tenang.
Mbah Warijan adalah perwujudan keteguhan niat yang sesungguhnya. Mulai dari manasik di tanah air, hingga menjalani semua rukun dan wajib haji di Mekah dan Madinah. Niatnya tunggal: Lillahi Ta'ala, menunaikan perintah-Nya. Saat sebagian dari kami, yang lebih muda, masih sempat berpikir tentang selfie di tempat instagrammable, reuni lintas provinsi, atau sibuk menyusun daftar oleh-oleh, Mbah Warijan hanya fokus pada setiap bacaan talbiyah, setiap putaran tawaf, setiap langkah sa'i, setiap detik wukuf, setiap lontaran jumrah.
Selain keteguhan niat, yang paling berkesan adalah kesantunan Mbah Warijan. Tak pernah, satu kalipun, saya melihat beliau emosi, apalagi marah. Tak pernah saya menjumpai beliau mengeluh, seberat apapun situasi. Semuanya dijalani dengan apa adanya, diterima dengan lapang dada. Mungkin inilah yang orang Jawa bilang "semeleh" (pasrah, menerima dengan ikhlas) dan "sak madyo" (secukupnya, apa adanya). Sebuah kearifan lokal yang nyata terwujud dalam dirinya.
Mbah Warijan, bagi kami, adalah sosok penuh hikmah dan tauladan dalam setiap sikapnya. Beliau tidak banyak bicara, namun perilaku beliau adalah narasi yang paling konkret dan kuat. Diamnya berisi, langkahnya pelajaran.
Kini, beliau telah berpulang. Lengkap sudah semua rukun Islam yang kau tunaikan, Mbah. Di usia senja, engkau diberi kemudahan dan kesempatan istimewa untuk menyempurnakannya. Atas segala skenario Allah yang begitu indah untukmu, kami hanya bisa berucap.
Selamat jalan, Mbah Warijan. Semoga husnul khotimah, dan segala amal ibadah serta kesabaranmu di Tanah Suci menjadi bekal terindah yang mengantarkanmu ke surga-Nya. Terima kasih telah menjadi pelajaran berjalan bagi kami, tentang ketulusan niat dan keikhlasan dalam beribadah. Kenanganmu akan selalu terukir di hati kami, para sahabat seperjalananmu di Kloter SOC 47.
